Sebuah Cerita, Sejarah, Seni Dan Kebudayaan
Oleh: Wiwin Edwin - Jakarta
Umumnya sekolah akan
tergambar di kepala kita, sebuah ruang kelas dengan bangku, kursi dan pakaian
seragam. Ada yang berbeda dengan SJK (Sekolah Jurnalisme Kebudayaan) yang
diselanggarakan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat dan Dikbud (Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan). Peserta berasal dari berbagai provinsi yang ada di
Indonesia, dilaksanakan senin (3/12) sampai sabtu(8/12).
Sekolah ini sangat
menyenangkan, karena kami (peserta) berada pada ruangan yang nyaman, disuguhi
oleh beberapa materi yang bagus, dan beberapa materi belum pernah kami dapatkan
sebelumnya. Yusuf Susilo Hartono menegaskan bahwa, seorang wartawan jika
menulis baik, makan sampai kapanpun hal itu akan baik, begitu juga sebaliknya.
“Apapun yang teman tulis itu akan menjadi sejarah, tulisan yang baik akan
menjadi baik sepanjang masa. Saya berharap setelah lulus SJK, teman-teman mampu
untuk menulis secara mendalam,” kata Yusuf Susilo Hartono yang juga merupakan
Direktur SJK.
Sekolah yang dilaksanakan di Hotel Atlet Century Jakarta
ini, dibuat agar jurnalis yang ada di daerah masing-masing, dapat berperan
untuk pengembangan pendidikan dan kebudayaan.
Mungkin kita sedikit lupa tentang kebudayaan yang ada di daerah
masing-masing, bahkan sangat kurang pula kebudayaan yang dapat dilihat dengan
mata kita sendiri, yang berkembang dihal umum saat ini, malah kebudayaan yang
berasal dari luar Indonesia, seperti sebuah tarian yang berasal dari Korea
“gangnam style”.
Tahukah kalian, tari bosara, tari ganrang bulo atau tari
pepeka ri makka? Tentu kalian pernah mendengar tari-tari tersebut. Iya, tari
tersebut adalah sebuah tarian yang berasal dari provinsi Sulawesi Selatan.
Tapi, pernahkah kita melihat secara langsung tari-tarian tersebut? Hal inilah
yang melatar belakangi penulis untuk ikut di SJK.
Dalam SJK terdapat berbagai materi yang diberikan untuk
memahamkan jurnalis saat meliput dan menulis tentang kebudayaan. Sejarah
kebudayaan, filsafat seni, tradisi, nilai budaya, kritik dan bebagai hal budaya
lainnya adalah materi yang diberikan kepada peserta SJK.
Materi pertama yang diberikan adalah sejarah kebudayaan,
berisikan tentang sejarah perkembangan kebudayaan yang ada di Indonesia. Karena
kebudayaan adalah ciri khas suatu bangsa, maka Prof. Edi Sedyawati sangat
menekankan bahwa jangan kita melupakan budaya yang ada di Indonesia, ada banyak
makna yang tersimpan dari sejarah kebudayaan di Indonesia.
“Tabe” yang artinya permisi adalah sebuah bukti sejarah
kebudayaan di Sulawesi Selatan, sikap tabe ini harus tetap ada, agar sikap
sopan dan santun dapat terus dilakukan sebagai tradisi dan nilai kebudayaan.
Selain itu, materi yang diberikan kepada peserta SJK adalah
kritik seni, kritik yang dijelaskan pada sesi materi ini adalah, bagaimana kita
dapat mengembangkan kemajuan seni dan budaya.
Drs. Asmudjo Irianto mengatakan, “kritik mencari kelemahan atau
kekurangan serta potensial dari karya tersebut untuk mendapatkan hasil yang
baik.” Sejalan dengan hal tersebut, sangat perlu memang untuk mengkritisi seni
dan budaya yang ada disekitar kita, agar kemampuan dan kualitas kita tidak
hanya berjalan pada bentuk yang sama.
Sensor Film Membuat
Perasaan Tidak Enak
Setelah diberikan materi dalam ruang kelas, peserta SJK
diajak untuk mengunjungi beberapa tempat, untuk mengenal beberapa kebudayaan
lainnya. LSF (Lembaga Sensor Film) adalah lembaga yang dibuat untuk melakukan
sensor terhadap film yang akan tanyang di Indonesia. Saat masuk di studio SLF,
kami diberikan beberapa arahan tentang film-film yang akan diputar.
Ternyata film tersebut adalah sebuah potongan-potongan film
yang di sensor, dari beberapa adegan yang tidak dapat ditonton atau
dipublikasikan, karena akan merusak pemikiran orang-orang yang akan menontonya.
Mulai dengan adegan lucu, yang sebenarnya menyinggung agama, adegan-adegan
dewasa, sampai dengan potongan film yang menyeramkan. Salah satu peserta SJK,
Nandy Pinta yang berasal dari Jambi, keluar dari studio LSF, karena merasa mual
saat menonton adegan film yang ditonton “saya tidak tahan dengan filmnya,”
ungkapnya.
Pemikiran pun dimainkan dengan potongan-potongan film yang
diberikan, mulai dari hal lucu, hal yang membuat panas dan hal yang
menyeramkan. Setelah melihat potongan-potongan film yang disensor, ternyata
film yang memperlihatkan adalah film yang betul
tidak cocok untuk dinonton di Indonesia. Bagaimana jadinya jika lembaga
sensor film tidak ada?
Rita Sri Hastuti adalah salah satu anggota LSF mengatakan
bahwa, “sensor film ini dilakukan, agar adegan-adegan yang tidak layak ditonton
dapat dihilangkan dari film tersebut. Contohnya, film yang memperlihatkan
adegan dewasa, sadis dan melecehkan agama atau ras tertentu, termasuk film yang
memiliki adegan negatif yang bisa saja diikuti oleh orang yang menontonya,
seperti cara pemakaian narkoba atau obat terlarang lainnya”.
--
Karya seni merupakan
sebuah proses yang dibuat oleh seorang seniman dengan menuangkan unsur rekayasa
seni. Ada banyak seni yang kita kenal, salah satunya adalah karya seni yang
terbuat dari unsur serat, seperti bambu, benang, atau kertas. Selain seni
serat, ada pula seni teater yang dikerjakan oleh seorang atau lebih dalam suatu
pagelaran. Berikut sepotong kisah dari perjalanan Sekolah Jurnalisme
Kebudayaan.
Menginip Ruang Penuh
Karya Seni Serat
Peserta SJK diajak untuk mengunjungi galeri seni dan museum
Art:1 (Art One), sebuah hasil karya yang tak biasa, bahan yang digunakan adalah
bahan yang biasa digunakan dalam hidup sehari-hari yang memiliki testur serat,
seperti benang, bambu, dan kertas.
Saat berada dalam ruangan, mata akan dimanjakan dengan
bentuk-bentuk yang tidak biasa. Karya-karya yang diperlihatkan pada galeri ini
adalah hasil karya dari seniman muda, yang memiliki daya kreasi seni yang
hebat. Karena untuk masuk ke galeri Art:1, seniman harus diseleksi dengan
berbagai seleksi yang ketat.
Monica sebagai managing director Art:1 menjelaskan, untuk
masuk ke galeri Art:1 ada beberepa tahap penyeleksian, karena tidak semua hasil
seni dapat masuk ke galeri ini. “Karya seni yang masuk pada galeri ini,
memiliki tahapan penyeleksian, mulai dari bentuk, makna dan berbagai hal
lainnya, karena karya seni yang dapat dimasukkan di galeri ini juga terbatas”.
Galeri ini dibuat untuk mengapresiasi hasil karya dari seniman. Selain itu,
pameran dilaksanakan untuk mempertemukan pengunjung dan senimannya, agar
pengunjung dapat mengerti hasil karya dari para seniman.
Setelah melihat isi galeri Art:1, selanjutnya menyeberang ke
museum seni yang terletak di samping galeri seni. Untuk museum sendiri, hasil
karya yang ditampilkan umumnya adalah karya seni lukis dengan berbagai teknik
lukisan, dan karya pada museum umumnya tidak untuk dijual, hanya untuk ditonton
dan dipamerkan.
Kebenaran yang
Membingungkan “Balak Song”
Balak Song adalah sebuah karya apresiasi seorang seniman
yang menggambarkan kritik terhadap pemerintah, yang membuat kesalahan menjadi
sebuah kebenaran, dan Slamet Rahardjo Djarot di balik kisah ini. Suasana
pementasan dihadiri beberapa seniman lokal, suasana di sekitar ruang teater
sangat menyenangkan, karena penonton yang akan masuk pada teater, akan disuguhi
oleh musik gendang, dilaksanakan di Bentara Budaya Jakarta, 6 Desember 2012
oleh Teater Populer.
Saat memasuki ruang
teater, ternyata telah terisi lebih dari separuh kursi penonton, kami (peserta)
sangat bingung untuk menentukan tempat duduk, karena kami berharap untuk dapat
posisi duduk paling di depan. “Tidak apalah kita duduk di sini win,” kata
Asprianta, peserta SJK yang berasal dari Kalimantan.
Kami berharap duduk di depan, karena teater semacam ini
sangat jarang dilihat di daerah peserta. Saat pembawa acara membuka dan
memperkenalkan teater Balak Song, peserta diberitahukan untuk dapat duduk di
bagian depan, tapi posisi duduk harus melantai, bergegaslah kami lari untuk
dapat duduk di bagaian paling depan.
Lampu di ruang teater
padam, ada suara sirine polisi dan musik yang menegangkan, setelah itu
terdengarlah nyanyian. “Oya lele,..oya lele,.. olalee,…laleee….” itulah
sepotong nyanyian yang membawa keluar para pemain taeter, suasana gelap, dengan
lampu yang berada di setiap kepala pemain. Sebuah meja, jeruji besi, kepala
penjara, dan tahanan yang duduk di atas closed, tertawalah kepala penjara yang
mengarah ke tahanan sambil berkata “hahaa,..sudah lama kau berada di sini dan
tinggal kau yang ada di penjara ini, lebih baik kau menandatangi surat
pembebasan dan keluar dari penjara,” dialog kepala penjara diawal pementasan.
Tahanan berbalik ke belakang dan berkata, “Untuk apa saya
keluar dari penjara, kalau kebenaran itu tidak saya dapatkan di luar sana, sama
saja jika saya berada di sini.” Di tengah-tengah pementasan, kepala enjara mengambil sebuah kartu domino dan
mengajak tahanan untuk bermain domino. Mereka pun bermain dengan asyiknya. Saat
permainan akan selesai, kepala penjara mengatakan, “Balak kosong (balak song),
saya menang. Saya mengalahkan kartu-kartumu yang lain itu dengan balak song
ku.” Tahanan hanya tertawa dan mengatakan, “Jangan kau senang dulu kepala
penjara, karena kamu tidak tahu, kalau saya juga mempunyai balak song.”
Dikeluarkanlah kartu balak kosong ke kepala penjara, kepala penjara bingung
sambil menatap tahanan.
Tahanan berkata, “Kamu jangan senang dulu dengan kemenangan
yang kamu punya, karena kemenangan itu dapat diputarbalikkan.” Kepala penjara
menggerutu dan menghempaskan semua kartu domino. “Ah sudahlah, kita hentikan
permainan ini, dan sebaiknya kau menandatangani surat pembebasanmu itu,” kata
kepala penjara.
Tahanan kembali berpikir. “Kalau begitu, saya akan
menandatangainya dan akan keluar dari penjara, kembali menyuarakan
kebenaran-kebenaran yang ada, dan meruntuhkan pemerintahan dengan sebuah
kebenaran,” kata tahanan. Setelah beberapa menit berlalu, permainan teater akan
memasuki titik puncak. Muncullah seorang ajudan dari seorang jendral, untuk
mengatakan, jendral akan berkunjung penjara.
Kepala penjara menjadi bingung, yang sebenarnya ajudan itu
adalah tahanan yang dulunya dia tahan dan yang dia berikan surat pembebasan.
Saat jendral masuk, terjadi perdebatan yang sengit antara
kepala penjara dan ajudan yang dulunya seorang tahanan. “Jendral, janganlah
engkau percaya dengan orang tersebut, karena ajunan ini adalah tahanan yang
dulunya ingin melemparkan bom ke muka jendral,” ungkap kepala penjara sambil
menunjuk ajudan.
“Iya, memang jendral, saya adalah orang tersebut. Namun
sekarang saya sadar bahwa apa yang saya pikirkan dahulu itu adalah salah dan
saya tidak akan melakukannya lagi. Untuk membalasnya, saya akan berbakti kepada
jendral,” tegas ajudan.
Ajudan pun menambahkan, kepala penjara lah yang sebenarnya
akan melakukan pemboman kepada endral,
dimana ajudan yang sebenarnya telah menyimpan bom di meja kepala penjara.
Jendral bingung dan mengatakan, “Siapakah yang sebenarnya yang benar di antara
kalian berdua?” Sambil tunjuk-menunjuk, mereka pun bertengkar, adu pendapat
tentang siapa yang benar. Bahkan jendral ikut bertengkar di antara pertengkaran
ajudan dan kepala penjara.
Sampai di ujung pertengkaran, ajudan dan kepala penjara
menunjuk jendral yang sebenarnya bersalah dalam hal ini. Tidak ada yang ingin
bertanggung jawab atas kesalahan yang ada di antara mereka. Hingga yang
disalahkan adalah seorang intel yang ditugaskan untuk menyindir pemerintahan,
dan menjadi korban atas semua kesalahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Hikayat kebenaran dapat membingungkan setiap orang, karena
dengan kekuasaan, semua hal itu dapat dibalikkan. Namun, semua hal perubahan
itu, perlu tanggung jawab yang mampu untuk dipertanggungjawabkan. “Kisah Balak
Song menawarkan pemikiran bahwa segala dalih kebenaraan
dan kesalahan pada akhirnya ditentukan oleh kadar tanggung
jawab,” tulis Slamet Raharjo Djarot dalam sinopsis Balak Song.

0 komentar:
Posting Komentar