Minggu, 13 Januari 2013

Sekolah Jurnalisme Kebudayaan



Sebuah Cerita, Sejarah, Seni Dan Kebudayaan 


Drs Asmudjo Irianto menunjukkan beberapa karya seni dan menjelaskannya dari kaca mata dia sebagai seorang kurator (ketua akuisisi dan penjaga barang-barang koleksi sebuah museum, perpustakaan atau lembaga serupa).

Oleh: Wiwin Edwin - Jakarta

Umumnya sekolah akan tergambar di kepala kita, sebuah ruang kelas dengan bangku, kursi dan pakaian seragam. Ada yang berbeda dengan SJK (Sekolah Jurnalisme Kebudayaan) yang diselanggarakan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat dan Dikbud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan). Peserta berasal dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia, dilaksanakan senin (3/12) sampai sabtu(8/12). 

 Sekolah ini sangat menyenangkan, karena kami (peserta) berada pada ruangan yang nyaman, disuguhi oleh beberapa materi yang bagus, dan beberapa materi belum pernah kami dapatkan sebelumnya. Yusuf Susilo Hartono menegaskan bahwa, seorang wartawan jika menulis baik, makan sampai kapanpun hal itu akan baik, begitu juga sebaliknya. “Apapun yang teman tulis itu akan menjadi sejarah, tulisan yang baik akan menjadi baik sepanjang masa. Saya berharap setelah lulus SJK, teman-teman mampu untuk menulis secara mendalam,” kata Yusuf Susilo Hartono yang juga merupakan Direktur SJK.

Sekolah yang dilaksanakan di Hotel Atlet Century Jakarta ini, dibuat agar jurnalis yang ada di daerah masing-masing, dapat berperan untuk pengembangan pendidikan dan kebudayaan.  Mungkin kita sedikit lupa tentang kebudayaan yang ada di daerah masing-masing, bahkan sangat kurang pula kebudayaan yang dapat dilihat dengan mata kita sendiri, yang berkembang dihal umum saat ini, malah kebudayaan yang berasal dari luar Indonesia, seperti sebuah tarian yang berasal dari Korea “gangnam style”. 

Tahukah kalian, tari bosara, tari ganrang bulo atau tari pepeka ri makka? Tentu kalian pernah mendengar tari-tari tersebut. Iya, tari tersebut adalah sebuah tarian yang berasal dari provinsi Sulawesi Selatan. Tapi, pernahkah kita melihat secara langsung tari-tarian tersebut? Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk ikut di SJK.

Dalam SJK terdapat berbagai materi yang diberikan untuk memahamkan jurnalis saat meliput dan menulis tentang kebudayaan. Sejarah kebudayaan, filsafat seni, tradisi, nilai budaya, kritik dan bebagai hal budaya lainnya adalah materi yang diberikan kepada peserta SJK.

Materi pertama yang diberikan adalah sejarah kebudayaan, berisikan tentang sejarah perkembangan kebudayaan yang ada di Indonesia. Karena kebudayaan adalah ciri khas suatu bangsa, maka Prof. Edi Sedyawati sangat menekankan bahwa jangan kita melupakan budaya yang ada di Indonesia, ada banyak makna yang tersimpan dari sejarah kebudayaan di Indonesia.

“Tabe” yang artinya permisi adalah sebuah bukti sejarah kebudayaan di Sulawesi Selatan, sikap tabe ini harus tetap ada, agar sikap sopan dan santun dapat terus dilakukan sebagai tradisi dan nilai kebudayaan.
Selain itu, materi yang diberikan kepada peserta SJK adalah kritik seni, kritik yang dijelaskan pada sesi materi ini adalah, bagaimana kita dapat mengembangkan kemajuan seni dan budaya.  Drs. Asmudjo Irianto mengatakan, “kritik mencari kelemahan atau kekurangan serta potensial dari karya tersebut untuk mendapatkan hasil yang baik.” Sejalan dengan hal tersebut, sangat perlu memang untuk mengkritisi seni dan budaya yang ada disekitar kita, agar kemampuan dan kualitas kita tidak hanya berjalan pada bentuk yang sama.

Sensor Film Membuat Perasaan Tidak Enak
Setelah diberikan materi dalam ruang kelas, peserta SJK diajak untuk mengunjungi beberapa tempat, untuk mengenal beberapa kebudayaan lainnya. LSF (Lembaga Sensor Film) adalah lembaga yang dibuat untuk melakukan sensor terhadap film yang akan tanyang di Indonesia. Saat masuk di studio SLF, kami diberikan beberapa arahan tentang film-film yang akan diputar.

Ternyata film tersebut adalah sebuah potongan-potongan film yang di sensor, dari beberapa adegan yang tidak dapat ditonton atau dipublikasikan, karena akan merusak pemikiran orang-orang yang akan menontonya. Mulai dengan adegan lucu, yang sebenarnya menyinggung agama, adegan-adegan dewasa, sampai dengan potongan film yang menyeramkan. Salah satu peserta SJK, Nandy Pinta yang berasal dari Jambi, keluar dari studio LSF, karena merasa mual saat menonton adegan film yang ditonton “saya tidak tahan dengan filmnya,” ungkapnya.

Pemikiran pun dimainkan dengan potongan-potongan film yang diberikan, mulai dari hal lucu, hal yang membuat panas dan hal yang menyeramkan. Setelah melihat potongan-potongan film yang disensor, ternyata film yang memperlihatkan adalah film yang betul  tidak cocok untuk dinonton di Indonesia. Bagaimana jadinya jika lembaga sensor film tidak ada?

Rita Sri Hastuti adalah salah satu anggota LSF mengatakan bahwa, “sensor film ini dilakukan, agar adegan-adegan yang tidak layak ditonton dapat dihilangkan dari film tersebut. Contohnya, film yang memperlihatkan adegan dewasa, sadis dan melecehkan agama atau ras tertentu, termasuk film yang memiliki adegan negatif yang bisa saja diikuti oleh orang yang menontonya, seperti cara pemakaian narkoba atau obat terlarang lainnya”.

 --

Karya seni merupakan sebuah proses yang dibuat oleh seorang seniman dengan menuangkan unsur rekayasa seni. Ada banyak seni yang kita kenal, salah satunya adalah karya seni yang terbuat dari unsur serat, seperti bambu, benang, atau kertas. Selain seni serat, ada pula seni teater yang dikerjakan oleh seorang atau lebih dalam suatu pagelaran. Berikut sepotong kisah dari perjalanan Sekolah Jurnalisme Kebudayaan.

Menginip Ruang Penuh Karya Seni Serat
Peserta SJK diajak untuk mengunjungi galeri seni dan museum Art:1 (Art One), sebuah hasil karya yang tak biasa, bahan yang digunakan adalah bahan yang biasa digunakan dalam hidup sehari-hari yang memiliki testur serat, seperti benang, bambu, dan kertas.

Saat berada dalam ruangan, mata akan dimanjakan dengan bentuk-bentuk yang tidak biasa. Karya-karya yang diperlihatkan pada galeri ini adalah hasil karya dari seniman muda, yang memiliki daya kreasi seni yang hebat. Karena untuk masuk ke galeri Art:1, seniman harus diseleksi dengan berbagai seleksi yang ketat.
Monica sebagai managing director Art:1 menjelaskan, untuk masuk ke galeri Art:1 ada beberepa tahap penyeleksian, karena tidak semua hasil seni dapat masuk ke galeri ini. “Karya seni yang masuk pada galeri ini, memiliki tahapan penyeleksian, mulai dari bentuk, makna dan berbagai hal lainnya, karena karya seni yang dapat dimasukkan di galeri ini juga terbatas”. Galeri ini dibuat untuk mengapresiasi hasil karya dari seniman. Selain itu, pameran dilaksanakan untuk mempertemukan pengunjung dan senimannya, agar pengunjung dapat mengerti hasil karya dari para seniman.

Setelah melihat isi galeri Art:1, selanjutnya menyeberang ke museum seni yang terletak di samping galeri seni. Untuk museum sendiri, hasil karya yang ditampilkan umumnya adalah karya seni lukis dengan berbagai teknik lukisan, dan karya pada museum umumnya tidak untuk dijual, hanya untuk ditonton dan dipamerkan.

Kebenaran yang Membingungkan “Balak Song”
Balak Song adalah sebuah karya apresiasi seorang seniman yang menggambarkan kritik terhadap pemerintah, yang membuat kesalahan menjadi sebuah kebenaran, dan Slamet Rahardjo Djarot di balik kisah ini. Suasana pementasan dihadiri beberapa seniman lokal, suasana di sekitar ruang teater sangat menyenangkan, karena penonton yang akan masuk pada teater, akan disuguhi oleh musik gendang, dilaksanakan di Bentara Budaya Jakarta, 6 Desember 2012 oleh Teater Populer.

 Saat memasuki ruang teater, ternyata telah terisi lebih dari separuh kursi penonton, kami (peserta) sangat bingung untuk menentukan tempat duduk, karena kami berharap untuk dapat posisi duduk paling di depan. “Tidak apalah kita duduk di sini win,” kata Asprianta, peserta SJK yang berasal dari Kalimantan.
Kami berharap duduk di depan, karena teater semacam ini sangat jarang dilihat di daerah peserta. Saat pembawa acara membuka dan memperkenalkan teater Balak Song, peserta diberitahukan untuk dapat duduk di bagian depan, tapi posisi duduk harus melantai, bergegaslah kami lari untuk dapat duduk di bagaian paling depan. 

 Lampu di ruang teater padam, ada suara sirine polisi dan musik yang menegangkan, setelah itu terdengarlah nyanyian. “Oya lele,..oya lele,.. olalee,…laleee….” itulah sepotong nyanyian yang membawa keluar para pemain taeter, suasana gelap, dengan lampu yang berada di setiap kepala pemain. Sebuah meja, jeruji besi, kepala penjara, dan tahanan yang duduk di atas closed, tertawalah kepala penjara yang mengarah ke tahanan sambil berkata “hahaa,..sudah lama kau berada di sini dan tinggal kau yang ada di penjara ini, lebih baik kau menandatangi surat pembebasan dan keluar dari penjara,” dialog kepala penjara diawal pementasan. 

Tahanan berbalik ke belakang dan berkata, “Untuk apa saya keluar dari penjara, kalau kebenaran itu tidak saya dapatkan di luar sana, sama saja jika saya berada di sini.” Di tengah-tengah pementasan, kepala  enjara mengambil sebuah kartu domino dan mengajak tahanan untuk bermain domino. Mereka pun bermain dengan asyiknya. Saat permainan akan selesai, kepala penjara mengatakan, “Balak kosong (balak song), saya menang. Saya mengalahkan kartu-kartumu yang lain itu dengan balak song ku.” Tahanan hanya tertawa dan mengatakan, “Jangan kau senang dulu kepala penjara, karena kamu tidak tahu, kalau saya juga mempunyai balak song.” Dikeluarkanlah kartu balak kosong ke kepala penjara, kepala penjara bingung sambil menatap tahanan.

Tahanan berkata, “Kamu jangan senang dulu dengan kemenangan yang kamu punya, karena kemenangan itu dapat diputarbalikkan.” Kepala penjara menggerutu dan menghempaskan semua kartu domino. “Ah sudahlah, kita hentikan permainan ini, dan sebaiknya kau menandatangani surat pembebasanmu itu,” kata kepala penjara.

Tahanan kembali berpikir. “Kalau begitu, saya akan menandatangainya dan akan keluar dari penjara, kembali menyuarakan kebenaran-kebenaran yang ada, dan meruntuhkan pemerintahan dengan sebuah kebenaran,” kata tahanan. Setelah beberapa menit berlalu, permainan teater akan memasuki titik puncak. Muncullah seorang ajudan dari seorang jendral, untuk mengatakan, jendral akan berkunjung penjara.
Kepala penjara menjadi bingung, yang sebenarnya ajudan itu adalah tahanan yang dulunya dia tahan dan yang dia berikan surat pembebasan.

Saat jendral masuk, terjadi perdebatan yang sengit antara kepala penjara dan ajudan yang dulunya seorang tahanan. “Jendral, janganlah engkau percaya dengan orang tersebut, karena ajunan ini adalah tahanan yang dulunya ingin melemparkan bom ke muka jendral,” ungkap kepala penjara sambil menunjuk ajudan.
“Iya, memang jendral, saya adalah orang tersebut. Namun sekarang saya sadar bahwa apa yang saya pikirkan dahulu itu adalah salah dan saya tidak akan melakukannya lagi. Untuk membalasnya, saya akan berbakti kepada jendral,” tegas ajudan.

Ajudan pun menambahkan, kepala penjara lah yang sebenarnya akan melakukan pemboman kepada  endral, dimana ajudan yang sebenarnya telah menyimpan bom di meja kepala penjara. Jendral bingung dan mengatakan, “Siapakah yang sebenarnya yang benar di antara kalian berdua?” Sambil tunjuk-menunjuk, mereka pun bertengkar, adu pendapat tentang siapa yang benar. Bahkan jendral ikut bertengkar di antara pertengkaran ajudan dan kepala penjara.

Sampai di ujung pertengkaran, ajudan dan kepala penjara menunjuk jendral yang sebenarnya bersalah dalam hal ini. Tidak ada yang ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang ada di antara mereka. Hingga yang disalahkan adalah seorang intel yang ditugaskan untuk menyindir pemerintahan, dan menjadi korban atas semua kesalahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Hikayat kebenaran dapat membingungkan setiap orang, karena dengan kekuasaan, semua hal itu dapat dibalikkan. Namun, semua hal perubahan itu, perlu tanggung jawab yang mampu untuk dipertanggungjawabkan. “Kisah Balak Song menawarkan pemikiran bahwa segala dalih kebenaraan
dan kesalahan pada akhirnya ditentukan oleh kadar tanggung jawab,” tulis Slamet Raharjo Djarot dalam sinopsis Balak Song.

0 komentar: