Senin, 07 Januari 2008

bahaya frekuensi terhadap manusia

Radiasi di Sekitar Kita
Gangguan tidur, sakit kepala, sampai risiko kanker. Benarkah radiasi mengundang penyakit? Atau, semuanya hanya kepanikan belaka? Dalam artikel ini CHIP mengungkap hasil penelitian ter-baru.Telepon seluler (ponsel) sudah menjadi bagian hidup kita. Apalagi bagi kebanyakan anak dan remaja, perangkat ponsel dalam saku celana adalah pendamping setia. Akan tetapi, banyak kalangan yang mengkhawatirkan kebe-radaan tiang pemancar radio bergerak. Mereka takut akan akibat negatif dari radiasi. Menurut sebuah jajak pendapat, cukup banyak orang yang mengkha-watirkan risiko kesehatan akibat tiang-tiang tersebut. Padahal, beban radiasi perorangan akibat menara ini jauh lebih kecil dibanding ketika bertelepon dengan ponsel. Fakta juga menunjukkan bahwa semakin banyak tiang terpasang, semakin rendah radiasi langsung ke telinga.
Akibat pemberitaan di media massa, ketakutan terhadap pe-mancar permanen seperti perang-kat telepon tanpa kabel dan W-LAN di rumah juga meningkat. Kekha-watiran semakin besar ketika para dokter dan ilmuwan berdebat, sebahaya apa sebenarnya radiasi radio bergerak. Setiap tahun dipublikasikan hasil penelitian baru yang memberi pengetahuan me-ngenai bahaya radiasi.
PENGETAHUAN DASAR
Radiasi frekuensi tinggi
Setiap perangkat listrik meman-carkan radiasi dan akan mem-bentuk medan listrik serta mag-netik. Kedua jenis medan ini saling terkait. Setiap arus listrik menim-bulkan medan magnet dan berlaku pula sebaliknya. Oleh karena itu, bisa juga disebut radiasi elek-tromagnetik dan intensitasnya disebut ‘Kepadatan arus daya?’ dengan satuan Watt/m2.
Radiasi elektromagnetik, terutama bervariasi dalam satuan frekuensi. Medan dengan frekuensi di bawah 100 kHz disebut radiasi frekuensi rendah, 100 kHz-100 GHz radiasi frekuensi tinggi dan di   atasnya disebut radiasi optis dalam bentuk cahaya inframerah, cahaya tam-pak, dan ultraviolet. Sama seperti tingkat frekuensi, efek radiasi pada manusia juga bervariasi. Apabila frekuensi rendah mampu menem-bus tubuh manusia, pada fre-kuensi tinggi, daya tembusnya semakin berkurang seiring semakin tinggi frekuensi radiasinya. Dalam praktiknya, frekuensi rendah adalah produk sampingan dari perangkat elektronik, seperti TV. Sebaliknya radiasi frekuensi tinggi sengaja dibuat secara teknis untuk tujuan tertentu, misalnya pada perangkat ponsel dan microwave.
HASIL PENELITIAN
Dari ‘tidak berbahaya’ hingga risiko tumor dan kerusakan gen. Peng-gunaan radio bergerak frekuensi tinggi di dunia menimbulkan per-debatan di kalangan pakar: Apakah radiasi frekuensi tinggi mengan-dung risiko kesehatan bagi manu-sia? Pakar yang kritis mengatakan “ya”. Pendapat mereka disokong dengan bukti bahwa semakin banyak orang mengeluhkan gang-guan tidur, sakit kepala atau ‘tidak enak badan’ secara umum. Ma-salah-masalah kesehatan ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan efek termalnya saja (pemanasan jaringan tubuh manusia akibat radiasi frekuensi tinggi). Efek yang jauh lebih buruk seperti menim-bulkan kanker juga dituduhkan pada radiasi frekuensi tinggi. Sejumlah penelitian besar telah dilakukan untuk menggali bukti-bukti penting. WHO pun turun tangan dengan melakukan riset. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Interphone di bawah payung WHO ini dilakukan di 13 negara dengan jumlah responden 15.000 orang. Akhir Januari lalu para peneliti di Jerman mempublikasikan hasil mereka. Kesimpulannya: Ponsel dan telepon DECT tidak meningkatkan risiko tumor ganas walau digunakan setiap hari secara intensif. Seringnya peng-gunaan maupun dekatnya jarak ke base station DECT (misalnya di sisi tempat tidur) tidak akan mempe-ngaruhi jumlah penderita kanker. Dalam hasil penelitian di negara lain yang telah lebih dulu dipublikasikan, para ilmuwan sampai pada kesim-pulan yang sama. Ini menum-buhkan harapan bahwa radiasi frekuensi tinggi tidak memiliki efek penimbul kanker pada manusia. Memang, kemungkinan pening-katan risiko tumor pada mereka yang menggunakan ponsel secara intensif sejak 10 tahun belakangan tidak dapat diabaikan. Namun telepon jaringan C yang umum digunakan 10 tahun lalu memiliki intensitas radiasi yang lebih tinggi dibandingkan ponsel modern jari-ngan D dan E. Oleh karena itu, hasil tersebut dalam kaitannya dengan beban radiasi masa kini lebih merupakan alasan yang mele-gakan.Pada pertengahan tahun ini, semua hasil penelitian dari setiap negara akan digabungkan. Jumlah responden yang sangat besar akan memberi kesimpulan yang lebih dapat diandalkan. Hasil penelitian nova-Institut ‘Observasi beban EMVU akibat W-LAN’ di Huerth, Jerman, pada tahun 2004 juga menunjukkan bahwa beban radiasi akibat penggunaan jaringan secara intensif jauh lebih kecil daripada yang selama ini dikha-watirkan. Bahkan, tingkat radiasi di dekat sebuah Access Point hanya sebesar 0,0025 W/m2. Nilai tersebut hanya 0,025% dari nilai batas maksimal. 
“Risiko tumor untuk kelompok penduduk di sekitar stasiun TV telah meningkat hampir 3 kali lipat.” Dr. Hort Eger, Kepala Penelitian Radio Bergerak di Naila
Penelitian lain seperti yang dila-kukan sekelompok dokter dari Naila di Franken, Jerman, tahun 2004 mencapai hasil yang ber-beda. Mereka berkesimpulan bahwa risiko tumor di dekat tiang pemancar radio bergerak lebih tinggi 2,35 kali. Namun beberapa faktor mengurangi relevansi penelitian tersebut. Jumlah kasus penderita yang hanya 34 orang pun dinilai terlalu sedikit, pemilihan 967 responden sangat tidak spesifik dan penyebab kanker lainnya sama sekali tidak diper-hitungkan. Tentu saja, hasil penelitian ini tidak bisa diabaikan, tetapi dari sudut pandang ilmiah, kurang berarti. Para dokter dari Naila tidak sendirian, Asosiasi Penelitian REFLEX pada tahun 2005 telah membuktikan di 11 laboratorium bahwa gelombang radio bisa menyebabkan keru-sakan gen pada kultur sel ter-tentu. Pengukuran dilakukan dengan intensitas radiasi setara percakapan telepon yang berefek pada kepala. Prof.Dr. Adlkofer, koordinator program yang didu-kung Uni-Eropa tersebut menga-takan sendiri, percobaan dalam tabung reaksi tidak dapat ditrans-fer ke mahluk hidup. Masih dibu-tuhkan penelitian lebih lanjut untuk menyimpulkan risiko radiasi pada manusia. Baru-baru ini, sebuah riset dalam rangka ‘Program Penelitian Radio Bergerak’ telah dilakukan di Jerman. Penelitian ini akan mengorek pengurangan kualitas tidur akibat radio ber-gerak. CHIP akan terus mem-beritakan mengenai penelitian ini.

Tips: Mengurangi polusi elek-tromagnetik
Bagaimanapun juga, akan lebih baik jika sedapat mungkin kita menghindari kemungkinan radiasi elektromagnetik. Beberapa tips berikut bisa Anda ikuti.
Sumber radiasi ponsel: Hin-dari percakapan bila penerimaan buruk, karena ponsel akan mengi-rim sinyal dengan tenaga maksimal untuk mencapai tiang relay.
»Bicara singkat dan jelas. Perca-kapan yang lama meningkatkan radiasi dalam kepala. Jika perlu gunakan sms, waktu kirim singkat dan radiasi tidak mengarah ke kepala.
»Jangan bertelepon dalam mobil. Rangka mobil dapat memantulkan sinyal. Untuk mengatasinya pon-sel harus mengirim sinyal lebih kuat dan berarti meningkatkan beban radiasi.
»Gunakan handsfree. Headset bluetooth radiasinya lebih rendah dibanding tanpa headset. Lebih baik lagi menggunakan handsfree dengan kabel.
»Ketika membeli ponsel perhatikan agar nilai SAR-nya serendah mungkin di bawah 1,0 W/kg seperti pada banyak model baru. Sebagai perbandingan sertifikasi lingkungan ‘Blue Angel’ mengijinkan hingga 0,6 W/kg.
Sumber radiasi telepon DECT: Singkirkan base-station (yang tetap memancar sinyal dalam kondisi standby) dari dekat Anda. Sebaiknya letakkan di lorong ruangan. Jika ingin membeli yang baru, pilihlah model yang berhenti memancar sinyal ketika unit terko-neksi dengan telepon.
Sumber radiasi W-LAN: Matikan Access Point bila tidak digunakan. Jika terlalu merepotkan, banyak perangkat yang menawarkan pilihan untuk mengurangi intensitas power transmisi.
Sumber radiasi gelombang mikro: Jangan menatap piringan dalam microwave saat bekerja. Walaupun hanya makanan yang perlu dipanaskan, tanpa sengaja radiasi juga bisa terpantul keluar. Semakin jauh Anda berada, sema-kin baik.
Sumber radiasi TV: Jagalah jarak menonton Anda. Duduk terlalu dekat pesawat TV tidak hanya buruk bagi mata, tetapi juga me-ningkatkan radiasi yang terserap tubuh.
KESIMPULAN CHIP : Kerusakan akibat polusi elektromagnetik belum terbukti. Walau media massa senang membuat panik, hasil rangkaian pengukuran saat ini berbicara lain. Intensitas radiasi frekuensi tinggi langsung pada perangkat sumbernya masih jauh di bawah nilai batas, hanya seperseratusnya! Hampir semua perangkat, seperti Access Point untuk W-LAN dan bluetooth atau base-station DECT bahkan meme-nuhi persyaratan dari nova-Institut, dan hanya 1% dari batas yang ditetapkan pemerintah. Di sini efek samping yang secara ilmiah belum terbukti pun sudah diperhitungkan. Akan tetapi, kemungkinan ilmiah risiko kesehatan akibat radiasi juga tidak dapat ditutup. Oleh karena itu, dalam boks kiri CHIP memberikan tip-tip efektif untuk mengurangi polusi elektromagnetik di ling-kungan pribadi Anda.

0 komentar: