Senin, 14 Januari 2013

Makassar Tidak Kasar


Wikipedia


SUKU Makassar adalah nama Melayu untuk se­buah etnis yang mendi­ami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkasara’ berarti “Mereka yang Ber­sifat Terbuka.” Atau men­erima dengan baik.

Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar ber­perang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafas­kan Islam, mulai dari kese­luruhan pulau Sulawesi, ka­limantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara.

Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainn­ya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khu­susnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Be­landa hingga kejatuhannya akibat adu domba Belanda terhadap kerajaan taklu­kannya.

Hubungan Makassar dengan Bugis
Ada yang mengira bahwa Makassar adalah identik dan serumpun dengan suku Bu­gis dan bahwa istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah. Hing­ga pada akhirnya kejatuhan Kerajaan Makassar pada Be­landa, segala potensi dimati­kan, mengingat suku ini terk­enal sangat keras menen­tang Belanda. Di mana pun mereka bertemu Belanda, pasti diperanginya.

Bebera­pa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah seperti Karaeng Galesong, hijrah ke Tanah Jawa. Bersama ar­mada lautnya yang perkasa, memerangi setiap kapal Be­landa yang mereka temui. Oleh karena itu, Belanda yang saat itu dibawah pimpi­nan Spellman menjulukinya dengan “Si-Bajak-Laut” (di­kutip id.wikipedia.com).

Dari segi linguistik, ba­hasa Makassar dan bahasa Bugis berbeda, walau kedua bahasa ini termasuk dalam Rumpun bahasa Sulawesi Selatan dalam cabang Me­layu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam kelompok ini, bahasa Makassar masuk dalam sub-kelompok yang sama den­gan bahasa Bentong, Konjo dan Selayar, sedangkan ba­hasa Bugis masuk dalam sub-kelompok yang sama dengan bahasa Campala­gian dan dua bahasa yang ditutur di pulau Kalimantan yaitu bahasa Embaloh dan bahasa Taman. Perbedaan antara bahasa Bugis dan Makassar ini adalah salah satu ciri yang membedakan kedua suku tersebut.

Pikiran bahwa Bugis dan Makassar adalah serumpun berasal dari penaklukan kerajaan seperti Bone dan Wajo oleh Gowa.

Berubah Nama Menjadi Ujung Pandang
Ujungpandang atau Ujung Pandang ada­lah nama lain untuk Kota Makassar dan perubahan nama dari Makassar ke Ujung Pandang terjadi pada tanggal 31 Agustus 1971, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 1971. Kala kota Makas­sar di mekarkan dari 21 kilometer persegi menjadi 115, 87 kilometer persegi. Pemekaran ini mengadopsi sebagian dari tiga wilayah kabupaten yaitu Maros, Gowa, dan Pangkep. Karena kata “Makassar” dianggap mewakili suatu etnis tert­entu yaitu “Etnis Makassar”, Bupati Gowa (Etnis Makas­sar) dan Bupati Maros (Etnis Bugis) pada waktu itu me­nentang keras pemekaran tersebut.

Untunglah per­tentangan itu bisa diredam dengan syarat kedua Bupati tersebut mau menyerahkan sebagian wilayahnya asal­kan nama Makassar diganti. Maka Walikota Makassar pada waktu itu H.M Daeng Patompo (Alm) terpaksa menyetujui perubahan nama tersebut demi perlu­asan wilayah kota.
Alasan untuk mengganti nama Makassar menjadi Ujungpandang adalah ala­san politik, antara lain ka­rena Makassar adalah nama sebuah suku bangsa pada­hal tidak semua penduduk kota Makassar adalah ang­gota dari etnik Makassar.

Tentunya masih banyak yang bertanya “Namanya unik Ujung Pandang, asal kata Ujung Pandang itu dari mana? Kata Ujung Pandang itu diambil dari nama Ben­teng yaitu Benteng Ujung Pandang (sekarang ber­nama Benteng Fort Rotter­dam) yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-X Tunipalangga (tahun 1545). Setelah ba­gian luar benteng selesai, dibangunlah bangunan khas Gowa didalamnya yang ter­buat dari kayu. Sementara di bagian luar benteng ter­bentuklah sebuah perkam­pungan yang semakin lama semakin ramai. Disanalah kampung Jourpandan (Jup­pandang) sedangkan ben­teng dijadikan sebagai kota kecil di tepi Pantai Losari.

Versi lain kata Ujung Pandang adalah jika kita berdiri di atas benteng Ujung Pandang/Fort Rot­terdam yang berada di tepi pantai losari, dari sana kita bisa memandang hingga ke ujung lautan.

Sedari awal peruba­han nama Makassar men­jadi Ujung Pandang sudah menuai protes dari berbagai kalangan masyarakat, se­lama bertahun-tahun telah diadakan berbagai seminar, diskusi, lokakarya untuk membahas tentang polemik pergantian nama Makassar. Pada tahun 1999, sesuai PP No. 86 Tahun 1999 maka Ujung Pandang kembali res­mi diubah menjadi Makassar.win

0 komentar: